Berita terkini

Gerbang Media Nasional

Laporan : Kabiro kM

 

SUBANG,Tanjung wangi, GMN  – Menjelang Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Tanjungwangi, Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang untuk periode 2027–2034, gelombang dukungan masyarakat terus mengalir deras. Di tengah panggung persaingan yang kian terbuka, muncul satu figur asli daerah yang memadukan rekam jejak kepemimpinan matang dengan ikatan batin yang mendalam kepada warga: Dede Wahyudin, yang akrab disapa Dangiang Damar. Dengan penuh keyakinan dan tanggung jawab, ia secara resmi menyatakan kesiapannya maju sebagai Bakal Calon Kepala Desa Tanjungwangi, membawa harapan baru bagi kemajuan tanah kelahirannya.

Menapak Jejak Pahit: Dari Kesederhanaan Menuju Puncak Keberhasilan
Niat suci Dede Wahyudin untuk mengabdi bukanlah lahir dari ambisi sesaat, melainkan buah dari perjalanan hidup panjang yang ditempa oleh perjuangan dan ketekunan. Lahir pada 5 Mei 1975 dari keluarga sederhana di wilayah Subang, ia telah merasakan getirnya hidup sejak usia belia. Sosok yang dikenal rajin, tangguh, dan tak mengenal rasa malu ini pernah menjajakan es dan gorengan keliling kampung, berjalan kaki memikul hasil bumi ke pasar, hingga bekerja sebagai kuli panggul dan tenaga bongkar muat—pekerjaan berat yang menguji fisik sekaligus membentuk mental baja dan kemandiriannya.

Bekal ketabahan dan etos kerja tinggi itulah yang mengantarnya merantau demi mengubah nasib. Merangkak dari posisi paling bawah di dunia kerja, ia perlahan menanjak mengisi jabatan strategis berkat kinerja dan dedikasi. Puncaknya, ia mendirikan usahanya sendiri: PT. MEGAH DANGIANG DAMAR . Di bawah arahannya sebagai Direktur Utama, perusahaan ini tumbuh pesat, menjalin kemitraan dengan perusahaan besar nasional, dan sukses menggarap proyek infrastruktur strategis negara. Kisah hidupnya adalah bukti nyata: anak desa yang lahir dari keterbatasan mampu mendobrak batas dan menjadi pemimpin korporasi yang disegani di tingkat nasional.

Filosofi *Mapag Carita Nu Nyata*: Menjemput Kisah Nyata, Bukan Janji Semu
Kesuksesan di perantauan tidak membuatnya lupa pada akar. Justru, kenyamanan hidup yang ia raih menguatkan panggilan hatinya untuk pulang dan mewakafkan segala kemampuan bagi kemajuan Tanjungwangi. Langkah pengabdian ini ia landasi dengan filosofi mendalam masyarakat Sunda: “MAPAG CARITA NU NYATA”.

Filosofi ini mengandung makna: Mapag berarti menyongsong dengan kesiapan jiwa dan raga Carita adalah lembaran perjalanan dan rekam jejak, Nu Nyata bermakna kebenaran yang konkret, faktual, dan dampaknya terasa nyata—bukan sekadar janji manis atau angan-angan kosong. Bagi Dangiang Damar, ini adalah janji moral: kepemimpinan yang akan datang bukan lagi waktunya untuk retorika politik di atas kertas, melainkan masa di mana seluruh warga diajak bergerak bersama menyongsong babak baru pembangunan yang hasilnya jelas, transparan, objektif, dan terlihat nyata oleh setiap warga Tanjungwangi.

Semangat *TUMANINAH*: Visi dan Misi Nyata untuk Kemajuan Desa
Untuk mewujudkan filosofi tersebut, Dede Wahyudin merangkum visi besarnya dalam semangat **TUMANINAH** — akronim dari Tulus, Maju, Niat, Amanah — yang diterjemahkan langsung ke dalam program kerja terukur:

– **TULUS: Pelayanan Tanpa Pamrih**
Mewujudkan pemerintahan desa yang bersih, transparan, dan inklusif. Pelayanan publik dijalankan dengan ikhlas, tidak tebang pilih, dan menjamin keadilan bagi seluruh warga, sebagai fondasi utama menuju kemajuan bersama.

MAJU : Pembangunan Infrastruktur & Ekonomi
Fokus utama pada peningkatan kualitas jalan lingkungan di setiap RT dan RW, guna memperlancar mobilitas, meningkatkan kenyamanan hidup, dan memutus isolasi ekonomi. Langkah ini dibarengi dengan modernisasi sektor pertanian dan pengembangan potensi ekonomi lokal.

NIAT : Landasan Suci Pengabdian
Segala kebijakan dan keputusan berlandaskan niat tulus *lillahi ta’ala*, semata-mata demi kemaslahatan dan kemakmuran seluruh warga, tanpa didasari kepentingan pribadi, kelompok, atau golongan tertentu.

AMANAH : Integritas & Tanggung Jawab
Menjaga kepercayaan masyarakat dengan kejujuran penuh, integritas tinggi, dan transparansi pengelolaan anggaran. Setiap rupiah dana desa akan disalurkan sepenuhnya untuk program yang berdampak langsung pada kesejahteraan warga.

Sebagai bukti kepedulian nyata sebelum menjabat, Dede Wahyudin telah aktif mengembangkan budi daya perikanan di wilayah ini. Bagi beliau, sektor ini bukan sekadar usaha pribadi, melainkan proyek percontohan untuk membuktikan bahwa melimpahnya sumber mata air di Tanjungwangi adalah kekayaan alam yang belum tergali sepenuhnya. Dengan sentuhan manajemen profesional, pembentukan kelompok usaha pembudi daya, dan akses jaringan pasar nasional yang ia miliki, sektor perikanan berpotensi menjadi penggerak ekonomi baru, menyerap tenaga kerja lokal, dan menaikkan pendapatan asli desa secara signifikan.
Harapan Tulus: Satukan Langkah Menuju Era Emas Tanjungwangi
Menutup perbincangannya, sosok yang dikenal tenang namun tegas ini menyampaikan pesan yang menyentuh hati setiap warga:
“Saya pernah berada di titik paling bawah sebagai kuli panggul, sehingga saya sangat paham benar denyut nadi, kesulitan, dan harapan masyarakat kecil. Saya tidak ingin melihat jalan lingkungan kita rusak, atau kekayaan air yang melimpah terbuang sia-sia tanpa memberi manfaat ekonomi. Melalui semangat TUMANINAH, mari kita kesampingkan perbedaan, satukan tekad, dan melangkah bersama menyongsong lembaran kisah kemakmuran yang nyata bagi Desa Tanjungwangi.”

Dukungan kini terus mengalir dan mengkristal di lima wilayah kedusunan, bersatu dari kalangan pemuda, tokoh agama, petani, hingga pembudi daya ikan. Profil Dede Wahyudin dianggap lengkap: perpaduan ketahanan mental anak desa yang teruji dari bawah, dengan kapasitas manajerial kelas korporasi. Sosok ini dinilai sebagai figur paling ideal untuk memimpin Tanjungwangi melangkah menuju era keemasan baru yang bermartabat, sejahtera, dan berdaulat.

Penulis : KM
(Red: Gerbang Media Nasional)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *